Dewey memperkenalkan bahwa struktur internal pengetahuan dan hubungannya dengan bagian masalah adalah dasar dalam pengembangan pengetahuan yang berguna

Dewey memperkenalkan bahwa struktur internal pengetahuan dan hubungannya dengan bagian masalah adalah dasar dalam pengembangan pengetahuan yang berguna

Pengetahuan merupakan hasil dari kontruksi kognitif melalui melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan sekma yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan baru

Orientasi terhadap pembelajaran untuk belajar ketimbang mengumpulkan pengetahuan difasilitasi dengan memfokuskan tentang apa yang oleh Brown dan Campione (1996) sebut a€?big information and strong principlesa€? (ide-ide besar dan prinsip yang dalam)a€?. Kontruktivisme menyakini bahwa belajar mencakup proses pengetahuan yang lebih mendalam ketimbang menghafalkan materi. Belajar meliputi restruktur atau menciptakan keterhubungan dari sistem yang terintegrasi (misalnya, menciptakan atau memodifikasi skema dengan suatu cara yang memiliki efek yang kuat tentang apa yang diperhatikan dan dipelajari dari hal tersebut; Bransford, Frank, Vye & Sherwood, 1989) (Robbert B. Innes, )

Prinsip dasar yang mendasari filsafat konstruktivis adalah bahwa semua pengetahuan dikonstruksikan (dibangun) dan bukan dipersepsi secara langsung oleh indera (pemciuman, penglihatan, perabaan,…). Seperti dikatakan oleh Von Glasersfeld (1984), salah satu pendiri gerakan konstruktivis, bahwa konstruktivisme berakar pada asumsi bahwa pengetahuan, tidak peduli bagaimana pengetahuan itu didefinisikan, terbentuk di dalam otak manusia, dan subjek yang berpikir tidak memiliki alternatif selain mengkonstruksikan apa yang diketahuinya berdasarkan pengalamannya sendiri. Semua pikiran kita didasarkan oleh pada penglaman kita sendiri, dan oleh karenanya bersifat subjektif (Muijs dan Reynolds, ).

Sebagaimana dikutif oleh Asri Budiningsih () mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu; 1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, 2) kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan dan 3) kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengetahuan yang satu daripada yang lainnya.

Setara dengan di atas, Budingsih juga mengemukakan bahwa faktor-faktor yang juga mempengaruhi proses mengkonstruksi pengetahuan adalah konstruksi pengetahuan seseorang yang telah ada, website pengalaman, dan jaringan struktur kognitif yang dimilikinya. Proses dan hasil konstruksi pengetahuan yang telah dimiliki seseorang akan menjadi pembatas konstruksi pengetahuan yang akan datang. Pengalaman akan fenomena yang baru menjadi unsur penting dalam membentuk dan mengembangkan pengetahuan. keterbatasan pengalaman seseorang pada suatu hal juga akan membatasi pengetahuannya akan hal tersebut. pengetahuan yang telah dimiliki orang tersebut akan membentuk suatu jaringan struktur kognitif dirinya.

Semua kalangan dari paham konstruktivis menyetujui bahwa pengetahuan secara aktif dikonstruksi oleh manusia, entah secara people ataupun dalam kelompok, bukannya diterima dari sumber organic atau supranatural (atau bahkan dari seorang teacher; Philips 1995). Selain ini, definisi kontruktivisme beragam menurut permasalahan yang diperdebatkan bersama dengan perubahan konstruktivis. Bidang perdebatan yang paling dasar dipresentasikan oleh suatu rangkaian dalam memandang belajar sebagai suatu tindakan instruksi secara specific untuk melihat belajar sebagai sebuah kontruksi sosial. Rangkaian ini dipusatkan pada satu posisi yang dikenal sebagai konstruktivisme radikal atau psikologikal, yang menggambarkan konstruksi pengetahuan sebagai suatu proses yang terjadi dalam attention dari individu. Pada sisi lain dari rangkaian https://datingmentor.org/escort/richardson tersebut diberlakukan dengan posisi yang dikenal sebagai a€?social constructivism or sociocultural posistiona€? yang melihat a€?minda€? sebagai hampir secara keseluruhan melekat pada personal practice with the community (kenyataan sosial budaya) (Robert, 2004: xiii)

Dengan demikian, kontruktivisme seperti dikatakan oleh Von Glasefeld adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (kontruksi) kita sendiri. pengetahuan bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Padangan kontruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang. konstruktivistik mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seseorang mengkonstruksi pengetahuan dari pengalamnnya, struktur emotional, dan keyakinan yang digunakan untuk menginterpretasikan objek dan peristiwa-peristiwa. Pandangan konstruktivistik mengakui bahwa pikiran dalah instrumen penting dalam menginterpretasikan kejadian, objek, dan pandangan dunia nyata, di mana interpretasi tersebut terdiri dari pengetahuan dasar manusia secara people.

Manusia mengkonstruksi pengalamnnya

Paul Suparno SJ (Muchith, ) menyatakan bahwa product pembelajaran yang dianggap tepat menurut teori konstruktivisme adalah product pembelajaran yang demokratis dan dialogis. Pembelajaran harus memberikan ruang kebebasan kepada siswa untuk melakukan kritik, memiliki peluang yang luas untuk mengungkapkan ide atau gagasannya, guru tidak memiliki jiwa otoriter dan diktator.